/ 226 Views
by

Pendapat WHO tentang happy hypoxia….!!

Briserlink.Com| Sebanyak 300 penelitian dari seluruh dunia telah menemukan sebuah prevalensi kelainan saraf pada pasien covid-19. Penelitian ini termasuk dengan gejala ringan, seperti sakit kepala, kehilangan penciuman (anosmia), dan kesemutan (arcoparasthesia), hingga gejala berat seperti aphasia (ketidakmampuan berbicara), stroke, dan kejang-kejang.

Ini adalah manifestasi dari temuan-temuan baru bahwa umumnya virus menyebabkan penyakit pernapasan, juga dapat merusak ginjal, hati, jantung, dan hampir semua sistem organ dalam tubuh.

Kepala Pusat Penelitian Otak, Pasific Health Sciences University, Prof Taruna Ikrar mengakui penelitian yang mendeteksi adanya virus pada jaringan otak.

Ia menganalogikan virus corona adalah anak kunci, dan sel-sel tubuh manusia termasuk pada jaringan otak adalah lubang kuncinya. Sehingga virus sangat leluasa masuk ke seluruh sel jaringan tubuh manusia.

Pada 12 Agustus 2020 lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan silent hypoxia atau happy hypoxia di dalam panduan sementara penanganan pasien isolasi mandiri di rumah, dan pengelolaan penelusuran kontak mereka.

Di dalam panduan ini, WHO menyebutkan bagi pasien positif Covid-19 yang menjalani isolasi di rumah disarankan untuk dapat mengukur kadar oksigen dalam darah secara reguler.

Sehingga dapat mengidentifikasi individu yang membutuhkan evaluasi medis, terapi oksigen atau rawat inap, bahkan sebelum mereka menunjukkan tanda-tanda bahaya klinis atau gejala yang memburuk,”

Rekomendasi WHO ini merujuk pada sebuah penelitian yang melibatkan 1.201 pasien Covid-19 pada 13 – 19 Maret 2020 dengan pengujian kadar oksigen di dalam darah. Data pasien ini dibandingkan dengan pasien non-Covid-19 yang mengalami gangguan pernapasan akut dalam tiga tahun terakhir.

Penelitian menunjukkan, kadar oksigen dalam darah pasien Covid-19, kebanyakan di bawah 90%, atau mengalami hypoxia.

Dan Oleh sebab itu Pohon Kopi dengan batang kecil dan kuat serta daun lebar yang tumbuh teratur di antara sela-sela pohon besar sangat berperan besar untuk menghadirkan kembali kesegaran lingkungan di sekitar kita. Dengan perhitungan 1 hektar kebun kopi bisa menyerap karbon dioksida (CO2) mencapai 25 ton per tahun dan melepas 16 ton oksigen (O2)ke udara, kebun kopi berperan vital memerangi polusi yang semakin menggila, apalagi dalam situasi pendemi Covid-19 sekarang ini, ketersediaan Oksigen sangat Penting untuk mencukupi pasokan kebutuhan oksigen untuk tubuh kita.

Apabila 0,6 ton oksigen bisa dikonsumsi 1.500 penduduk, 1 hektar, maka tanaman kopi bisa memberikan pasokan oksigen bagi sekitar 40.000 orang dengan gratis.

Keberadaan pohon pelindung juga bisa menjadi penjaga kualitas lingkungan yang baik. Pohon dadap, misalnya. Dalam setahun, satu pohon dadap bisa menyerap 4,5 kg CO2 per tahun dan melepaskan sekitar 3 kg O2 per tahun gratis ke udara. Apabila dalam sehektar lahan kopi ditanam 500 pohon, dalam setahun bisa dihasilkan 1,5 ton oksigen per tahun atau setara kebutuhan lebih dari 3.000-4.000 orang.

Kopi bukan hanya enak diminum atau di konsumsi. Tapi menyimpan banyak kebaikan untuk bumi dan alam serta orang-orang sekitarnya. Bahkan menunjang kesejahteraan hingga perlindungan dan keseimbangan alam khususnya kebutuhan Oksigen”.

Dan hal – hal diatas adalah Dasar dan tujuan kami untuk membuat “Tempat Nongkrong dan Kuliner”, di Bukit Kejel karena Di Bukit Kejel pemandangannya indah untuk menyegarkan pikiran dan banyak pohon kopi yang berguna sebagai suplay oksigen di tubuh kita sehingga dapat menyegarkan tubuh,

#Di Masa Pendemi Covid-19 sekarang ini, kami lebih betah nongkrong di Bukit kejel dari pada nongkrong di rumah aja.

(Blk-tim)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed